Jika ilalang eggan meliuk. Biarkan kembang kapasnya menyisir angin untuk bertanya
entah pada sesiapa; Satu. Wahai! Masih adakah bulu perindu, atau decak tokek di
pohon randu, atau ciap anak pipit di pucuk-pucuk nyiur yang tersedu. Dua.
Wahai! Masih adakah gamang kromong menyisip di beting tebing, atau wawaca Sang juru tapa, atau karawitan di
lereng-lereng Kaliurang saban pagi. Tiga. Wahai! Masih adakah singkap jendela
meski penuh bercak darah yang siap terulur
tidak saja beriring doa, namun menunas dan berbunga menyatukan jemari
dalam kebersamaan kata: Kita saudara! Empat: Wahai! Masih adakah gaung istighfar,
menguntai menjadi lembar-lembar tobat menujuki kita pada buhul keimanan. Lima. Wahai! Masih adakah tergaris sajadah, demi
pertapaan yang kikis menggulung untuk
kita kembali membentangnya, menjadi sajadah membuka tabir amarah. Karena kita terlalu jauh merantau pada kampung
kesalahan.
/ Silampari, 28 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar