Minggu, 22 April 2012

SESIAPA: SATU HINGGA LIMA



Jika ilalang eggan meliuk. Biarkan kembang kapasnya menyisir angin untuk bertanya entah pada sesiapa; Satu. Wahai! Masih adakah bulu perindu, atau decak tokek di pohon randu, atau ciap anak pipit di pucuk-pucuk nyiur yang tersedu. Dua. Wahai! Masih adakah gamang kromong menyisip di beting tebing, atau wawaca  Sang juru tapa, atau karawitan di lereng-lereng Kaliurang saban pagi. Tiga. Wahai! Masih adakah singkap jendela meski penuh bercak darah yang siap terulur  tidak saja beriring doa, namun menunas dan berbunga menyatukan jemari dalam kebersamaan kata: Kita saudara! Empat: Wahai! Masih adakah gaung istighfar, menguntai menjadi lembar-lembar tobat menujuki kita pada buhul keimanan. Lima. Wahai! Masih adakah tergaris sajadah, demi pertapaan yang kikis menggulung  untuk kita kembali membentangnya, menjadi sajadah   membuka tabir amarah. Karena kita terlalu jauh merantau pada kampung kesalahan.




                                                          / Silampari, 28 Oktober 2010





Tidak ada komentar:

Posting Komentar