Minggu, 22 April 2012

LUKA




Denyut bumi semakin kempis. Tak lagi memberikan kehidupan pada aliran nadi, karena semua telah terkeruk dalam tangis pedih. Yang mengores setiap kedip mata bahkan mengeluarkan darah dan nanah. Duh! mampukah kening ini menengada? Menatap langit yang selalu berwarna jelaga? Atau dibiarkan terkulai pada satu tatapan sayup kehampaan pada setiap ceruk yang berwarna hitam.Air mata telah surut. Tak sanggup mengalirkan bening kepedihan. Kecuali senandung ’pasrah’ pada penerimaan yang ’tak’. Menggiring bangkai sepanjang lereng Sleman hingga pesisir Mentawai, pun tergelincir pada peneriamaan yang ‘tak’ .


                                                                  / Silampari, 27 Oktober 2010





Tidak ada komentar:

Posting Komentar