Denyut bumi semakin kempis. Tak lagi memberikan
kehidupan pada aliran nadi, karena semua telah terkeruk dalam tangis pedih. Yang
mengores setiap kedip mata bahkan mengeluarkan darah dan nanah. Duh! mampukah
kening ini menengada? Menatap langit yang selalu berwarna jelaga? Atau
dibiarkan terkulai pada satu tatapan sayup kehampaan pada setiap ceruk yang
berwarna hitam.Air mata telah surut. Tak sanggup mengalirkan bening kepedihan.
Kecuali senandung ’pasrah’ pada penerimaan yang ’tak’. Menggiring bangkai sepanjang
lereng Sleman hingga pesisir Mentawai, pun tergelincir pada peneriamaan yang
‘tak’ .
/ Silampari, 27 Oktober
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar