Di
padang asa kutabur benih
Kuingin
tumbuh;
Air kehidupan,
Bayu kehidupan,
Tonggak kehidupan,
Cambuk kehidupan,
Hingga
suatu saat dapat kusunting,
‘kan
kujadikan penghias wajah kuyuh
bercermin
pada angin buram
yang
berhembus dari alif hingga yah
Di
ceruk telaga kutebar sauh
kuingin
akan terjaring;
Gemericah yang menirbuih,
Reranting yang berserak,
Tatal yang menari,
Gemair
yang tumpah entah kemana
Hingga
suatu saat dapat ku petik
Sebagai
irama waktu yang lentik menari
mengoda
telapak berlacak
pada
separuh alif hingga yah
Di
bentangan bumi yang maha
Sepasang
telapak menengadah ke langit tujuh
Mengharap
sepercik wahyu ‘tuk basuh tubuh berpeluh
Lalu
Menghantarkannya
kepelataran rumah kita;
“yang tegak berdiri di atas bumi sepi yang paling sunyi
dan gelap yang pekat…”
Yang
mengagah siang malam
Siap
mendekap; dalam sepi yang paling sunyi,
gelap yang paling pekat…
/Lubuklinggau, 23 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar