(i)
Tun,
Andai angin sedikit saja berkabar
betapa kuingin diperdengarkan lagu cinta
yang pernah meliuk sahdu bersamanya
menari di lentik sinar mentari pagi
mengalir...menyisir telaga hati yang bening..
(ii)
Tun...lihatlah
matahari masih terang bersinar
mengendus gemawan hitam
menjentikkan jemari kehangatan,
menggerus mimpi terpulas dalam diam
Tun
Biarlah kutatap dan kujilat,
endusan angin yang datang dari buritan
menjajahkan kidung lawas yang lama berkubur
bersama pucuk-pucuk pinus yang tumbuh liar
bersama tiang-tiang yang terpaku diam
bersama biduk, dan kepak camar yang kian datar
Tun
Haruskah aku menukik buih
Yang datang menggeliat, bersuit, mendesis dan terdampar
hingga pupus...
bersama langit
yang entah kan berwarna apa
/Lubuklinggau, 18 Des 09/ 1 Muharam 1431
Tidak ada komentar:
Posting Komentar