Kamis, 23 Oktober 2014

I TSING





“I Tsing!!  Melajulah dengan perahumu. Jemputlah Budhis bersama sang maha guru  Sakyakirti.  Ukirlah masa pada apa saja tentang seribu pendeta yang meriap di  taman Nalanda bersama Balaputradewa. Canangkan pada tiang-tiang viara warna-warna tiongkok kampung leluhurmu, hiasi bubungannya dengan sepasang naga lambang kewibawaan dan tuah negerimu”

suara  gelisah itu hilang tenggelam di Muci yang menghilir
segelisah peradaban yang menyampah hingga ke muara
mengubur nilai Nalanda dalam lacak Muci yang makin tebal
berkilang limbah dan asap pabrik yang menguap
membunuh tempalo, lais, baung, patin, dan belido
“I Tsing!! Apa yang telah kau catatkan tentang Sriwidjaya? Setelah berlusin  purnama kau lapiskan. Sudahkah kau ukir pada batu,  kayu, pada daun nipah, daun lontar, tentang Dapunta Hyang Sri Jayanasa  sang penakhluk yang berlayar ke  selat Malaka, selat Sunda, laut Cina Selatan, hingga  selat Karimata? Sudahkah kau titipkan pada manyar-manyar putih tentang ekspansi Sriwidjaya ke Jawa, dan  Semenanjung Malaya, dan masyur  di Asia Tenggara?”
suara  mengabar itu makin sayup;
kami terlalu sibuk dengan urusan  negeri ini
kami bunuh sejarah 
kami kunyah, kami telan, kami buang di pelambahan
bahkan kami tapakan  dawai Pai Li Bang di malam hari
yang dulu kerap  dilantunkan gadis dan bujang Pelembang di jembatanmu yang panjang

I Tsing
kupinjam tanganmu sejenak saja
demi mencatat perjalanan sejarah yang kehilangan wajah
  
/Palembang,15 September 2014

Catatan:
Muci= sebutan Musi orang Tiongkok
tapakan=mengasapkan/mengeringkan
Pelembang = Palembang
Pelambahan = tempat pembuangan sampah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar