KUURAI RESAH HINGGA LURUH MENERJANG WAKTU. KELAK AKAN MENJADI SAKSI, TENTANG PERJALANAN HIDUP, DAN PENCARIAN KE LEMBAH YANG ABADI - KEMATIAN
Kamis, 14 Agustus 2014
KEPADA PUTIKKU
/1/
Sudah waktunya, aku harus membiarkan perahumu berlayar mengarungi laut lepas, anakku. Kembangkan layar, arahkan angin menuju pulau impianmu. Jadikan debur ombak, derai hujan, dan kencang angin sebagai sahabatmu. Gulunglah sekoci, kala badai menerjangmu. Kau harus cekatan,manis. Arahkan kompasmu pada kiblat yang akan menuntunmu hingga ke tepian. Bentangkan sajadah, sujudlah. Karena di sana beribu aksara yang harus kau jadikan matra jiwa. Berlayarlah.
/2/
Ah, pintu sepi itu mulai meruak, menyajikan aroma kerinduan yang tak hanya berputik, namun telah mekar meraya-raya. Selanjutnya laut, bukit, gunung, dan hutan akan mendawai sendu dalam waktu yang lama, entah berapa purnama, mungkin berpuluh hingga menetaskan tahun. Tapi aku dan kau harus belajar pada rumpun bambu. Meski diterpa angin dan hujan, namun tetap bertahan dan gemulai dengan akar yang berpaut teguh.
/3/
Kita tengah menikmati sepi yang menari di tiang-tiang, langit-langit, rumpun kembang, jalan kecil, yang melorong di hati kita. Lalu angin malam akan mengantarkan kerinduan, selanjutnya kita muarakan untuk bersegera sua. Jagan hiasi kunang-kunang dengan tangis. Tapi tersenyumlah, kerlip tubuhnya adalah isyarat denyut jantung yang harus kita jaga
/4/
Bentangkan sauh, jaringlah matahari. Mekarkan impianmu, manisku. Bukankan kita telah siapkan warna-warni yang akan kita kuaskan pada dinding-dinding hari? Kita akan lukis siang dan malam dengan tasbih, tahmid, dan tahlil. Kita akan lukis hati kita dengan kalimah Laa Ilaaha Illallah
/Silamparai, Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar