Senin, 11 Agustus 2014

BINTANG KEMUKUS, BIDADARIKU





/1/
Bidadariku,hamparan padi di sawah kita masih menguning. Kita nikmati riang pipit yang terbang ke sana ke mari, berteriak gembira menyambut bernas padi. Di beranda dangau kita, kita tunggu malam tiba.Karena kemukus akan berbagi dengan cahayanya, dan hinggap di bubungan rumbia dangau kita. Maka tersenyumlah.

/2/
Bidadariku, malam ini ku Ingin kecup keningmu, membelai rambut dan punggungmu, lalu membiarkan tangismu kembali tumpah di dadaku. Ini baru perjalanan kecil sayang, masih panjang tapak yang harus kita titi. Tidakkah kau lihat perjak kecil yang hinggap di pohon sawo halaman rumah kita? Meski tak dapatkan ulat dan serangga untuk dimakannya, suaranya masih nyaring merdu, menyanyikan lagu alam terindahnya. Sebagai ungkapan jiwanya yang tak pernah kosong. Mari, kita sujud.. Karena tangis yang paling baik adalah tangis ketika kita bersyukur atas apa yang diberikanNya pada kita.

/3/
Bidadariku, tersenyumlah. Matahari masih masih bersinar bukan? Meski sedikit mendung, namun tetap memberikan kehangatan. Lihatlah. Burung-burung kecil di pucuk daun salak masih rincah terbang ke sana ke mari. Meski pohon itu berduri, sang induk masih sibuk membuat sarang di sela daun, untuknya bertelur, mengerami, lalu menetaskan anak-anaknya. Generasi yang kelak akan menjadi penerusnya. Bidadariku, alam telah banyak memberi pelajaran. Untuk kita. Untuk orang-orang yang berpikir. Mari, kita melangkah sedikit saja, untuk membaca alam berikutnya.


/Silampari, 9 Agustus 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar