Selasa, 01 Juli 2014

TELAGA BIRU 23 (dini hari)




Mak, ketika ku pulang
rindu pada kampung lahirku
masih membekas di riap daun dan riak Endikat yang gelisah
hatiku tertinggal di sini

Mak, ketika malam tiba
kumaknai rintik hujan dan gigil dingin yang  menyisip ke pori
kota kita masih dingin seperti dulu

Mak, di kampung lahirku 
aku punya sekelumit catatan
tentang  cinta dan rindu  yang berlabuh

Mak, cinta itu tak sempat kumiliki dengan sempurna
terlalu  banyak tapak berseleweran di tepi kaki
aku hanya mendapatkan rindu yang  terpaksa tumpah

Mak,
ingin aku menangis ketika mentari mulai meninggi
dan aku harus pergi
Tapi Mak
waktu  tak boleh disalahkan bukan?
 sebagaimana  tegar  yang memancar terang lewat matamu

/Telaga Biruku-Pagaralam,23/6/2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar