Mak, ketika ku pulang
rindu pada kampung lahirku
masih membekas di riap daun dan riak Endikat yang gelisah
hatiku tertinggal di sini
Mak, ketika malam tiba
kumaknai rintik hujan dan gigil dingin yang menyisip ke pori
kota kita masih dingin seperti dulu
Mak, di kampung lahirku
aku punya sekelumit catatan
tentang cinta dan
rindu yang berlabuh
Mak, cinta itu tak sempat kumiliki dengan sempurna
terlalu banyak tapak
berseleweran di tepi kaki
aku hanya mendapatkan rindu yang terpaksa tumpah
Mak,
ingin aku menangis ketika mentari mulai meninggi
dan aku harus pergi
Tapi Mak
waktu tak boleh
disalahkan bukan?
sebagaimana tegar yang memancar terang lewat matamu
/Telaga Biruku-Pagaralam,23/6/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar