Berbait
puisi mengalir rincah di sungai rasa kita yang berliku
bahkan menggenting
masih terasa kala bening air melekat dingin di
sela jemari kaki kita yang rekah
membasuh gerah yang datang tiba-tiba
Lihatlah
betapa bebatuan dan pepasir cemburu pada
untaian kasih yang menabuh dada kita
Sejenak kita bercumbu pada senja
memilin lagu-lagu rindu pada rembulan
rindu matahari, rindu bintang, rindu segalanya
kita tautkan jemari
bersama
menepis debu yang menyelubung karena
wakt
Ah, jangan biarkan air mengeruh
karena aku ingin ‘wudhu’ bersamamu
/Lubuklinggau,
5 Mei 2014
@salam sederhana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar