Rabu, 02 Juli 2014

SENJA




Berbait puisi mengalir rincah di sungai rasa kita  yang berliku
bahkan menggenting
masih terasa kala bening air melekat dingin di sela jemari kaki kita yang rekah
membasuh  gerah yang datang tiba-tiba
Lihatlah
betapa bebatuan dan pepasir cemburu pada untaian  kasih yang menabuh dada kita
Sejenak kita bercumbu pada  senja
memilin lagu-lagu rindu pada rembulan
rindu matahari, rindu bintang, rindu segalanya
kita tautkan jemari
bersama menepis debu yang menyelubung  karena wakt
Ah, jangan biarkan air mengeruh
karena aku ingin ‘wudhu’ bersamamu

/Lubuklinggau, 5 Mei 2014

@salam sederhana



Tidak ada komentar:

Posting Komentar