Kamis, 03 Juli 2014

DERAI WAKTU




Derai waktu adalah mimpi
  kapan kan sua, bercengkrama dan bermanjah
bercerita tentang masa kanak kita. 
Menyatukan kembali impian kita  
yang terdampar di pucuk-pucuk daun teh. 
Memuai bersama embun yang disapu matahari 
yang digiring kabut saban pagi.

Derai waktu adalah mimpi ketika rasa kita  membucah, 
menggelegak di sisi Lematang yang bening.  
Basah bermandi embun dingin,
mendamparkannya di atas batu-batu yang bergulir
 makin menghilir

Derai waktu adalah mimpi; ketika jejak kita yang menua  
 kembali terjerat pada sisa-sisa  tapak yang  mengabur. 
Menghimpun kembali kasih dan sayang yang kehilangan wajah.   
Bermain di antara getar yang sulit untuk di beri makna. 
Apa dan mengapa. Menggeranting kering tanpa wujud.   
Sementara cicit seriti kita biarkan menjerit  garing, tanpa irama, 
tanpa  senda tawa,  yang dapat dipungut 
untuk  sekadar bermanjah.

Derai waktu adalah mimpi; ketika hati gelisah dan ingin luap 
meninggalkan tentang segala dan kembali pada kesedirian, 
menepi, menghilir, dan memuai dalam gejolak   
 menjadi butir-butir kristal
yang akan kubawa hingga mati dan bersendiri.



                                                               /Lubuklinggau, 4 Juli 2014






Tidak ada komentar:

Posting Komentar