Derai waktu
adalah mimpi
kapan kan sua, bercengkrama dan bermanjah
kapan kan sua, bercengkrama dan bermanjah
bercerita tentang
masa kanak kita.
Menyatukan kembali impian kita
yang terdampar di pucuk-pucuk daun teh.
Memuai bersama embun yang disapu matahari
Menyatukan kembali impian kita
yang terdampar di pucuk-pucuk daun teh.
Memuai bersama embun yang disapu matahari
yang digiring kabut saban
pagi.
Derai waktu
adalah mimpi ketika rasa kita membucah,
menggelegak di sisi Lematang yang bening.
Basah bermandi embun dingin,
Basah bermandi embun dingin,
mendamparkannya di atas batu-batu yang bergulir
makin menghilir
Derai waktu
adalah mimpi; ketika jejak kita yang menua
kembali terjerat pada sisa-sisa tapak yang
mengabur.
Menghimpun kembali kasih dan sayang yang kehilangan
wajah.
Bermain di antara getar yang
sulit untuk di beri makna.
Apa dan mengapa. Menggeranting kering tanpa
wujud.
Sementara cicit seriti kita
biarkan menjerit garing, tanpa irama,
tanpa senda tawa, yang dapat dipungut
untuk sekadar bermanjah.
Derai waktu
adalah mimpi; ketika hati gelisah dan ingin luap
meninggalkan tentang segala
dan kembali pada kesedirian,
menepi, menghilir, dan memuai dalam gejolak
menjadi butir-butir kristal
menepi, menghilir, dan memuai dalam gejolak
menjadi butir-butir kristal
yang akan kubawa
hingga mati dan bersendiri.
/Lubuklinggau, 4 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar