Aku masih merindukan ayunan antan
belaggam
dentum-dentum di bawah tadah embun kita, Mak
memenuhi ruang dusun
hingga ke sisi hutan tepi pancuran
lalu jemari-jemarimu yang mengeras
bagai serok mengais kopi yang ditumbuk
aku masih merindukannya, Mak
ketika nighu-mu merdetak-detak
memanggil angin
menetak sisa kulit kopi
lalu biji kopi akan bergulir di bake-bake kita
tersenyum kuning untuk di bawa ke kota
aku masih merindukannya, Mak
ketika puntung kita menjulur
menjilat belanga besi
menghanguskan biji-biji kopi
lalu asap akan membumbung
meliuk-liuk
menebarkan aroma menyesak hingga dalam
menunggu air panas untuk meyedunya
/Kenangan di Bukit- 4 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar