Kota
Serelo
Masih
mengeliat di tubir malam
makin
kelam
kuhitung
satu-satu tentangmu yang timbul tenggelam di riak Lematang yang keruh Sebuah
catatan biru membekas pada dinding kota tua ini
Kota yang tak pernah kubayangkan akan berhias
lampion-lampion suram yang kita rangkai bersama di bawah langit yang temaram
Di stasiun
kereta, kuseret sedikit sepi
Menikmatinya
sebagai santapan paling gurih malam ini.
/Lahat,
24 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar