Mak
kemarau di langit buat sungaiku kering
Lekuk dan likunya melekang
Haruskah kucari mata air untuk sedikit membasahi bibir sungai?
Ah,
biarlah Mak, hanya itu milikku
Masih seperti dulu, denyut nadiku
bertabuh di palung yang paling kering
Akan kunikmati hingga denyut itu
pun berhenti sediri
menepi, sunyi, menunggu rinai
Akhirnya langkahpun surut, Mak.
Mak, biarkan aku berkelana sendiri
/Lubuklinggau, 24 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar