Mimpi-mimpi kecil yang tumbuh di pucuk-pucuk
teh
melayang hingga ke lembah
Terhempas, lalu kandas dibebatuan
Seekor seriti menatap lunglai
Tak tahu harus berucap apa
Mungkinkah
esok akan mengubah cerita seriang cahaya
matahari yang membias di sela rimbun daun?
Lalu tanganmu mengembang, mendekapku rindu seperti
dulu?
O bukan, bukan itu yang kumau
Tapi kau harus dengarkan degup jantungku yang
menangis dan tak mampu berair mata
Pernahkah kau peduli, lalu berusaha
membalutnya dengan hangat sepenuh jiwa? Ah, mungkin karena waktu
Satu
purnama sua kita masih terlalu muda
Kita
telah kehilangan jejak-jejak berpuluh
tahun ke belakang
lalu
membiarkannya ranggas tanpa bunga
@Kumaknai dua kali senja dua satu/26 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar