Serumpun senja bercerita tentang langkah pandakku yang melesap
di pasir putih
Jiwa ringkihku menangis,
ketika satu persatu butir-butir itu mengajakku bermain pada rasa
Sudah
kukatakan pada langit, aku tak kuat
Terlalu banyak serpihan-serpihan
menyakitkan, carut-marut terlukis di sini
Aku harus berteriak pada siapa lagi?
Pada hujan? Pada bulan? Pada angin? Atau pada ombak? Sementara perahuku
berlayar tanpa irama
Bermain di atas “tuts” yang mati rasa
Sudah kubentang
layar selebar-lebarnya
Tapi angin Barat, Timur, Utara dan Selatanpun tak hendak diajak bercanda
Ya, hanya pada awan yang
turut berwarna suram, terpaksa membalutku lalu mencoba menyebarkan
kehangatan
Bintang, dimana dikau?
Akankah sepanjang tapak yang tertinggal kembali
melukis pepasir dengan warna-warna kelam?
@Rafflesia 12 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar