Minggu, 11 Mei 2014

LUKISAN SURAM



Serumpun senja bercerita tentang langkah pandakku yang melesap di pasir putih
Jiwa ringkihku menangis, ketika satu persatu butir-butir itu mengajakku bermain pada rasa
Sudah kukatakan pada langit, aku tak kuat
Terlalu banyak serpihan-serpihan menyakitkan, carut-marut terlukis di sini
Aku harus berteriak pada siapa lagi? Pada hujan? Pada bulan? Pada angin? Atau pada ombak? Sementara perahuku berlayar tanpa irama
Bermain di atas “tuts” yang mati rasa
Sudah kubentang layar selebar-lebarnya
Tapi angin Barat, Timur, Utara dan Selatanpun  tak  hendak  diajak bercanda

Ya, hanya pada awan yang turut berwarna suram, terpaksa membalutku lalu mencoba menyebarkan kehangatan

Bintang, dimana dikau? 
Akankah sepanjang tapak yang tertinggal kembali melukis pepasir dengan warna-warna kelam?


@Rafflesia 12 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar