BERLARI
Akupun
berlari di pematang penuh lacak
Menggapai matahari yang masih tersangkut di ranting
Menggapai matahari yang masih tersangkut di ranting
/16-2-192014
KABUT
Mendung
duka melindap pada senja yang paling kabut
Menarai takdir
Tumpukan buram kembali menggunung
Menarai takdir
Tumpukan buram kembali menggunung
/16-2-192014
AKSARA
Seribu
satu berlipat dalam jari
Lalu merekah
aksara menunggu mekar esok
Lalu merekah
aksara menunggu mekar esok
/10-2-192014
MASIH
Masih
Ketika jemari mengeja satusatu
berhimpit pada siang pada malam
memekat pada secangkir kopi dingin
Ketika jemari mengeja satusatu
berhimpit pada siang pada malam
memekat pada secangkir kopi dingin
/3-3-2014
DIPELATARAN
Memuai di pelataran
Menggeranting
Sekering bulan yang tumbuh pagi
Menggeranting
Sekering bulan yang tumbuh pagi
3/3/2014
PADA
UJUNG WAKTU
Pada
ujung waktu
Bolehkah aku menghayati tentangmu;
menikmati sebaris senyumu
berbalut halimun Dempo ketika itu
Bolehkah aku menghayati tentangmu;
menikmati sebaris senyumu
berbalut halimun Dempo ketika itu
/19-2-192014
LANGKAH
Langkah
pun melaju ;
merajut
raut yang tak teraut
sebait
catatan tergerai
menjerami
di jiwa kekanakan kita
/22-2-192014
BILA
Bilakah
tangkai ini akan mematah
kala
bening pagi selalu menyapanya dengan mentari
yang
ada hanyalah gelisah
akan ku
apakan hari ini
23/2/2014
EMBUN
Setitik embun;
ketika sakral kata tumpah
angan pun melambung
menjaring mimpimimpi
ah biarlah ia indah menari sendiri
seteguk
kopi;
ketika satusatu datang
tatappun menancap di matamu
dan ku kagum itu
24/1/2014
DIAM
Bejanapun kupaksa mengatup
membuang lembar-lembar
yang mengoyak ruang harap
mestinya aku selalu jadi batu
berdiam
menikmati irama alam
/27/2/2014
SALAHKAH
salahkan kala lentera itu berpijar
kembali menerangi sudut bilikku
mengais debu yang melekat pada sebait puisi
yang tak sempat kau baca untukku
Maka, kubiarkan dedaun mengering
setelah senyap sunyi terdampar di tubir hari
setelah senyap sunyi terdampar di tubir hari
/Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar