Rabu, 07 Mei 2014

CATATAN TENTANG GELISAH



BERLARI

Akupun berlari di pematang penuh lacak
Menggapai matahari yang masih tersangkut di ranting

/16-2-192014


KABUT

Mendung duka melindap pada senja yang paling kabut
Menarai takdir
Tumpukan buram kembali menggunung

/16-2-192014


AKSARA

Seribu satu berlipat dalam jari
Lalu merekah
aksara menunggu mekar esok

/10-2-192014


MASIH

Masih
Ketika jemari mengeja satusatu
berhimpit pada siang pada malam
memekat pada secangkir kopi dingin

/3-3-2014


DIPELATARAN

Memuai di pelataran
Menggeranting
Sekering bulan yang tumbuh pagi

3/3/2014


PADA UJUNG WAKTU

Pada ujung waktu
Bolehkah aku menghayati tentangmu;
menikmati sebaris senyumu
berbalut halimun Dempo ketika itu

/19-2-192014



LANGKAH

Langkah pun melaju ;
merajut raut yang tak teraut
sebait catatan tergerai
menjerami di jiwa kekanakan kita

/22-2-192014


BILA

Bilakah tangkai ini akan mematah
kala bening pagi selalu menyapanya dengan mentari
yang ada hanyalah gelisah
akan ku apakan hari ini

23/2/2014


EMBUN

Setitik embun;
ketika sakral kata tumpah
angan pun melambung
menjaring mimpimimpi

ah biarlah ia indah menari sendiri


seteguk  kopi;
ketika satusatu datang
tatappun menancap di matamu
dan ku kagum itu

24/1/2014


DIAM

Bejanapun kupaksa mengatup
membuang lembar-lembar
yang mengoyak ruang harap
mestinya aku selalu jadi batu
berdiam
menikmati irama alam

/27/2/2014


SALAHKAH

salahkan kala lentera itu berpijar
kembali menerangi sudut bilikku
mengais debu yang melekat pada sebait puisi
yang tak sempat kau baca untukku


Maka, kubiarkan dedaun mengering
setelah senyap sunyi terdampar di tubir hari


/Februari 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar