Telah kuhitung hingga jari ke dua ribu dua belas, ayah
ketika sebiduk merapat
mengusir serpihan-serpihan
kecil yang berserak
mengulumnya jadi untaian masa lalu
ya yang berlalu
saat pucuk-pucuk kopi kita
tersenyum gembira
berbunga putih
meliuk sebar aroma saban
pagi
Telah kuhitung hingga
jemari ke dua ribu dua belas, ayah
Ketika senja mulai
tersunting
Bercerita segala;
tentang dangau kita di tepi sungai
yang rincah bercanda mencium
batu
tentang derit pelupuh yang mencacah jiwa
melabuhkan lelah
setelah seharian
lecah menyungkil lacak di ladang kita
Telah kuhitung
hingga jemari ke dua ribu dua belas, ayah
Meski berapa
purnama terlewati
Menyisir setapak dan pematang kita yang serut
/Lubuklinggau, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar