Rabu, 13 Februari 2013

RINDU UNTUK AYAH

















Telah kuhitung hingga jari ke dua ribu dua belas,  ayah
ketika sebiduk merapat
mengusir serpihan-serpihan kecil yang berserak
mengulumnya  jadi untaian masa lalu
ya yang berlalu
saat pucuk-pucuk kopi kita tersenyum gembira
berbunga putih
meliuk sebar aroma saban pagi

Telah kuhitung hingga jemari ke dua ribu dua belas,   ayah
Ketika senja mulai tersunting
Bercerita segala;
tentang  dangau  kita di tepi sungai
yang rincah bercanda mencium batu
tentang derit pelupuh  yang mencacah jiwa
melabuhkan lelah
setelah seharian lecah menyungkil lacak di ladang kita

Telah kuhitung hingga jemari ke dua ribu dua belas,   ayah
Meski berapa purnama terlewati
Menyisir setapak dan pematang kita yang serut

/Lubuklinggau, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar