Langit,
kutulis surat cinta padaMu. Karena hanya pada Engkau ku dapat mengadu.
Jangan biarkan aku kembali hanyut dalam gelombang waktu yang tak tentu.
Rengkuhlah aku kembali menjadi satu dalam dekapMu.
Tumbuhkan rinduku pada sajadah yang kan menjadi tangga temuju altarMu.
Lagit,
aku merindukan air surgawi yang dapat menjernihkan keruh darah yang mengalir di jantugku.
Seperti saat-saat dulu aku merasakan kasihMu yang syahdu.
Giring aku pada tangis yang tertumpah diseperempat malamMu,
mencubuMu penuh nafsu
dan kita bergumul dalam nikmat
Langit,
ruahkan Nur-Mu untuk menghangatkan jiwaku yang rapuh,
agar kudapatkan satu tonggak kekuatan,
kekuatan bersamaMU,
dan aku-pun berjalan dititian siratalmustaqim, menyongsongMu, menembus bumi hingga lapis ke tujuh,
dan lagitMu hingga langit ke tujuh
kutulis surat cinta padaMu. Karena hanya pada Engkau ku dapat mengadu.
Jangan biarkan aku kembali hanyut dalam gelombang waktu yang tak tentu.
Rengkuhlah aku kembali menjadi satu dalam dekapMu.
Tumbuhkan rinduku pada sajadah yang kan menjadi tangga temuju altarMu.
Lagit,
aku merindukan air surgawi yang dapat menjernihkan keruh darah yang mengalir di jantugku.
Seperti saat-saat dulu aku merasakan kasihMu yang syahdu.
Giring aku pada tangis yang tertumpah diseperempat malamMu,
mencubuMu penuh nafsu
dan kita bergumul dalam nikmat
Langit,
ruahkan Nur-Mu untuk menghangatkan jiwaku yang rapuh,
agar kudapatkan satu tonggak kekuatan,
kekuatan bersamaMU,
dan aku-pun berjalan dititian siratalmustaqim, menyongsongMu, menembus bumi hingga lapis ke tujuh,
dan lagitMu hingga langit ke tujuh
/Silampari, 16 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar