Selasa, 30 September 2014

LUMBUNG YANG TUMPAH

langkah pun harus berakhir
setelah sepekan menuai padi bernas yang menghampar di sawahsawah
lalu mengumpulkan padi yang menggunung itu ke lumbung
entahlah, apakah aku mampu mengiriknya setelah berpanas, berdingin
memaknai setiap cucuran yang berbicara
lalu membawanya pulang ke kampungku yang sepi

langit Lancang Kuning mulai meredup
melepas langkah-langkah pandak yang beringsut lesu
ada kegalauan yang meresah
melihat altar sawah yang riuh, tiba-tiba hening sepi
meja, kursi, dinding, dan tirai di hotel Pangeran melambai lesu
akankah waktu kembali menyemai benih di sini?
entahlah
sewindu, dua windu, atau berwinduwindu akan mengental
menguning lalu mengkristal dalam gubukgubuk pengganti lumbung yang tumpah


 @Pekanbaru, 14092014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar