Jumat, 01 Agustus 2014

MAK



(sumbu rinduku)

Mak, matahari baru saja hendak membukit
ketika hutan kita yang ranggas bermahkota cahaya
menjadi saksi tentang rinduku yang  melambung
kuraup bening air  dari  perut bumi dusun kita
kubasuhkan pada  telapak kakimu yang anggun kekar
telapak kaki yang lembut
telapak kaki yang melahirkan surga dalam lafas doa
Mak
kubasuh
kucium kakimu yang basah
kaupun membiarkan   gerimis langit rasaku
jatuh hangat di ujung telapakmu satu-satu

Mak, liku yang menyisir di lereng bukit
bernyanyi ria
mengantarkan aku pada perjalanan panjang
yang tersurat pada setiap gerat kaki
aku akan selalu merindukanmu, Mak
seperti malam yang merindukan bulan
tersenyum  di ujung bukit Selepah
atau segelisah Endikat  yang  gemuruh jatuh di luang-luang cadas
tempatmu menanamkan benih juang sejak dulu
Mak

/Ulu Endikat, 30 Juli 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar