kuketuk rumahmu
kuharap engkau muncul di tubir pintu
lalu kutangkap bola matamu yang tersenyum
memegang erat kekar tanganmu yang terjulur
di atas sajadah kitapun sama berdoa;
Tuhan,
andai waktu bisa kupinta
izinkan
kunikmati embun yang selalu jatuh setiap pagi
untuk
kuraup, berbasuh pada beningnya yang murni
Lubuklinggau,
18 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar