(1)
Lalu sejengkal perut mengerang
berbelit melilit di atas roda
berbasuh peluh
lalu desahan nafas yang tersengal
bertempur dengan asap kentut knalpot
resah menggelisah
lalu peluh berbalut rusuh
menjilat legam kulit yang
terbakar
garing menjera
lalu lelah
di atas lintingan nipah nasib
meliuk tak sempurna
jiwajiwa luka menyisih di
pinggiran jalan kotor berlacak
terhimpit
sepi
Becak becak!
Sepi
Takdir menyisip di sepanjang
jalan
Sepi
Lapangan, terminal, sampai ke
tepi sungai Kelingi
Sepi
Lalu mimpi bergelantung senyap
sunyi
Becak… becak!
Sebingkai nasib; menggadai hari
ini
Sepi
(2)
Oii
andai di atas langit ada langit
di atas bumi ada bumi
di atas angin ada angin
ingin ku sunting sejumput langit
sejumput bumi
sejumput angin
lalu kurangkai menjadi peraduan
setelah lelah menakhlukan
matahari
Oii
Andai peluh lelahku yang
menyungai
Gemericik di atas asa muskilku
‘kan kuciptakan hujan dari
langitku
‘kan kusemai pada bumiku
‘kan ku tabur pada anginku
Seperah peluh yang melekat di
daging-daging dukaku
Oiii
Andai sebutir saja asaku mewujud
tak akan kuberdiri di sini
selayak bangkai
kering garing
melarat di
atas bumi
seribu gagal
kumiliki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar