(1)
Dan putik itu bangkit dari
kuncupnya
berlari membawa mimpimimpi
di pangkal senja
jelang asa sepenuh hari
selayak angin Februari
yang jatuh pada hitungan dua
puluh dua
(2)
Pada biji kopi sudah kuhitung
hari-hari
dimana tonggak bambu kan semakin
mengukuh
melambai gemerisik dengan
rindunya yang riuh
di sudut mata tersisa tangis
amboi
kemana arah angin meraba
yang tersisa harap semata
(3)
Hujan yang menirai pagi ini,
masih bening
selayak embun yang pernah kita
peluk di lembah
kau tahu arti setia?
waktu telah menyimpannya di bilik
paling dalam
hatiku
(4)
Kapankah kan kau jelang aku?
Ketika jemari menari lentik
dengan pedih?
mencatat semua tentangmu dengang
jiwa
derai ombak dan cemara mengulum
senyum
ketika mata terpejam menunggu
bibirmu yang rindu
lalu menikam pada latar rindu
yang paling dalam
kasihku
/1 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar