Andai dedaun adalah lembaran tentang hitam dan
putih,
maka akan
kugores kisah perjalanan hidup papa yang mengurap sejak lama.
Juga sisa gelisah yang beriak-riak menggugah rasa
hingga mimpimimpiku
mengambang di angin yang hilir mudik, mengibas gelisah petang pagi
mengambang di angin yang hilir mudik, mengibas gelisah petang pagi
Pucuk pinus bak temali mengungkung renjau asa
bersama sisa tapak yang tertinggal
Jilatan ombak tak hapus pupus
‘tuk mengusir rinduku pada nyanyian ombak yang ku
dan kau rilis saban hari
meski dendam dan benci telah kuramu bersama
angin, air, laut, dan ombak
bebuih jua yang halus mengelus
hingga aku menangis lelah dan menyerah
kau tak pernah hilang dalam sapa
dan aku kalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar